Monday, January 8, 2007

Kartun Riwayat Peradaban Jilid I

Nonfiksi (terjemahan--komik)
Kartun Riwayat Peradaban Jilid I, Bab 1-7 Dari Ledakan Besar Hingga Alexander Agung
Pengarang: Larry Gonick
Judul asli: The Cartoon History of the Universe, Volumes 1-7
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia


Alam semesta mulai dengan sebuah LEDAKAN BESAR. Kilas maju ke berjuta-juta tahun kemudian, muncullah kehidupan di bumi. Namun, tidak ada yang benar-benar menonjol hingga terbentuk kehidupan tingkat tinggi, yang juga memunculkan salah satu hal penting yang akan bertahan hingga kini: Seks.

Hingga akhirnya, dunia dikuasai dinosaurus.

“Horeee!” seru para dinosaurus.

Sebelum akhirnya pada 70 juta tahun yang lalu--tanpa alasan yang jelas--mereka semua mati.

“Sial,” umpat para dinosaurus.

Mulailah zaman mamalia.

“Horeee!” seru para mamalia.

Dan muncullah mamalia jenis baru seperti monyet. Bedanya, mereka berlari tegak, di atas dua kaki.

“Lantas, buat apa tangan kita?” ujar para kera kreatif ini.

“Kita bisa membuat perkakas,” usul seseorang di antara mereka.

“Yah, boleh, lah,” angguk yang lain.

“Kita bisa menggunakan senjata untuk membela diri!” usulnya lagi.

“Yah, boleh, lah,” angguk yang lain.

“Kita bisa mengupil!” ujarnya kemudian.

“Kau jenius!” sorak yang lain.

Dan itulah yang melandasi tiga dasar kecenderungan manusia: berinovasi, agresi, dan mengurus berbagai kebutuhan asasi.

Maju kembali berjuta-juta tahun, hingga para manusia sudah begitu maju.

“Mari menetap dan berkembang biak!” usul satu pemimpin.

Para pengikut pun melakukannya.

“Mari membuat peradaban!” seru beberapa pemimpin.

Para pengikut pun menurutinya.

“Mari mengatasi ledakan populasi dan perbedaan budaya dengan memaksakan peradaban kita kepada suku lain!” perintah hampir semua pemimpin suku.

Darah tumpah ruah. Kepala bergelimpangan. Bagian sejarah inilah yang terus berulang.

“Nggak selalu karena pemaksaan peradaban, lah,” bantah Aristoteles. “Bisa juga karena alasan agung lainnya.”

“Seperti tidak diangkatnya seorang filsuf ambisius untuk menggantikan gurunya yang meninggal sebagai kepala akademi?” tanya Larry Gonick.

“Tentu saja,” gerutu Aristoteles sambil mendoktrin Alexander untuk menaklukkan dunia.