Sunday, December 17, 2006

Flash! Flash! Flash!


Fiksi
Judul: Flash! Flash! Flash! (Kumpulan Cerita Sekilas)
Penulis: Kira-kira sejumlah tiga tim sepakbola (termasuk cadangan dan pelatih)
Penerbit: Gradien Books


“Apa ini?” tanya sang pembaca.

“Oh, kau membaca karyaku,” jawab seorang penulis.

“Bukan, sekarang itu karyaku!” tukas penulis lainnya.

”Yang itu karyaku, kok,” potong bejibun penulis lainnya.

”Emang udah terbaca tiga cerita berbeda kok,” ucap sang pembaca. ”Bagus juga ceritanya pendek-pendek. Bisa kupakai untuk mendongeng ke keponakanku.”

”Jangan deh,” tahan bejibun penulis serentak.

Sang pembaca mengangkat kedua alis, ”Kenapa?”

”Ada pembunuhan tanpa alasan jelas,” ucap seorang penulis.

Penulis lain mengangguk, ”Ada cerita yang mengandalkan humor nyerempet seks.”

”Eh,” seorang penulis turut bersuara, ”tapi ada juga dong monolog tentang cinta.”

”Aku bingung,” sang pembaca memegang kepalanya. ”Jadi kalau aku disuruh bercerita tentang apa buku ini, apa yang harus kukatakan?”

"Ultah Blogfam ke-3!” seru mereka bersama.

”Oh,” angguk sang pembaca mengerti. ”Makanya semua cerita harus 126 kata, karena bulan dua belas tanggal enam, ya?”

”Em,” celetuk seorang penulis, ”bisa 216 kata juga sih.”

”Ulang tahunnya dua kali?” Alis sang pembaca kembali terangkat. ”Satu lagi pas 21 Juni?”

”Nggak sih,” ujar bejibun penulis serentak.

Sang pembaca mengangkat bahu, ”Terserah deh.”

Sunday, December 10, 2006

State of Fear


Fiksi
Judul: State of Fear
Penulis: Michael Crichton
Penerbit: Avon Books


“Hai,” sapa George Morton. “Saya biliuner kaya yang terlibat dalam berbagai proyek rahasia lingkungan hidup.”

“Dan saya pengacaranya,” ujar Peter Evans. “Walau di awal dialog saya sedikit, tapi saya adalah tokoh utamanya.”

George menghilang. Peter mencarinya. Dan dua kali hampir mati.

“Jangan khawatir,” kata John Kenner. “Di saat penting, aku pasti muncul untuk menyelamatkan situasi.”

“Kamu siapa?” tanya Peter.

“Aku agen rahasia pemerintah untuk melawan organisasi rahasia yang ingin mengakibatkan bencana alam berskala besar.”

Peter mengerutkan kening. “Saking rahasianya sehingga minim tenaga dan harus mengandalkan bantuan orang sipil seperti aku dan George?”

“Kira-kira begitu lah,” aku Kenner sambil menembak mati beberapa musuh.

“Jangan lupakan aku,” Sarah muncul. “Sekretaris cantik serbabisa berkaki jenjang.” Ia menembak mati seorang musuh. “Dan melengkapi elemen cerita agar bisa dijadikan skenario film Hollywood.” Ia menoleh ke arah Peter. “Oh, ya, ngomong-ngomong, George mati.”

“Oke,” kata Peter sambil turun dari pesawat. “Ada yang bisa memberiku alasan logis kenapa aku tetap ikut bersama kalian ke pulau terpencil ini, yang penuh dengan kanibal, pemberontak bersenjata, dan nyamuk malaria?”

Sarah mengangkat alis, “Tadi aku udah bilang belum mengenai diriku berkaki jenjang?”

“Jangan khawatir tentang nyamuk,” kibas Kenner. “Mereka bahaya jangka panjang. Pembaca hanya peduli bahaya jangka pendek.”

“Seperti itu?” tunjuk Peter kepada barisan mesin pembangkit tsunami.

“Ya,” angguk John. “Kau sedang cedera dan nggak pernah mendapatkan pelatihan militer, kan?”

“Belum pernah sama sekali,” geleng Peter.

“Oke, kau ambil alih satu generator.” John segera membunuh penjaga generator lainnya.

“Terlambat!” teriak Peter. “Mereka sudah sempat menyalakannya!”

“Celaka!” teriak George Morton. “Telepon CNN! Tunda siaran cuaca! Dan hubungi pialang sahamku juga. Jual semua saham hotel di pinggiran pantai!”

“George!” Peter berseru. “Kau masih hidup! Mari berlari ke dataran tinggi sebelum tsunami datang!”

“Oke!” sambut George. “Jangan lupa untuk membiarkan air di belakang kita setidaknya lima meter. Itu efeknya lebih tegang.”

Mereka selamat dan menyaksikan air laut yang mengganas. “Melihat semua ini membuatku menyadari sesuatu,” kata George.

“Bahwa banyak spekulasi tentang lingkungan hidup yang disesatkan sebagai informasi?” tanya Sarah.

“Bahwa kedua sisi—baik perusak maupun pelindung lingkungan—memiliki agenda?” tanya Peter.

"Bukan," geleng Morton. “Bahkan salah satu bencana alam terbesar di dunia pun bisa jadi ajang promosi novel.”

Monday, December 4, 2006

Koq Putusin Gue?


Fiksi
Judul: Koq Putusin Gue?
Penulis: Ninit Yunita
Penerbit: Gagas Media


"Gue menanti-nanti kejutan yang akan dibuat pacarku," ucap Maya. "Kami kan sudah jadian setahun."

"Kejutan!" seru Hari. "Kita putus, yuk?"

"Kenapa?" tanya Maya.

"Aku pengin kita temenan aja," jawab Hari.

"Oh, cewek lain," Maya menyingsingkan lengan baju. "Kalau gitu gue dendam deh."

"Emang kalau dendam mau ngapain?" tanya temannya, Rini.

"Gue akan menggunakan strategi Sun Tzu!" tegas Maya.

"Mengempeskan ban mobil?" tanya Rini. "Bagian dari mananya Sun Tzu tuh?"

Maya menatap temannya tajam, "Bab XVII: Jangan pertanyakan kedangkalan tokoh fiksi."

"Terserah," Rini mengangkat bahu. "Tapi suatu saat elo harus menyadari bahwa lebih baik merelakannya saja."

Dan Maya pun merelakannya.

Saturday, December 2, 2006

Love At First Fall


Fiksi
Judul: Love at First Fall
Penulis: Primadonna Angela
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Aku Wulandari. Cewek tomboy stereotipikal yang bisa menang berkelahi melawan lelaki. Agar tidak terlalu stereotipikal, aku akan meracau tentang banyak hal.

Namun intinya: Aku senang Kevin. Ditunangkan oleh Kevin. Kevin tidak menganggapnya serius. Kalau gitu, aku juga nggak dong.

Pergi ke Den Haag aaah.

“Halo, Ndari!” sambut cowok bule ganteng di Den Haag. “Aku Steve, bule yang bisa berbahasa Indonesia kaku supaya dialog di buku ini tidak terlalu banyak dicetak miring,” sapanya. “Ngomong-ngomong cetak miring, I love you.”

Oke, ini pembelokan plot yang cukup penting. Kalau gitu, aku akan meracau lagi selama beberapa puluh halaman.

Main dengan Steve. Kepergok Kevin. Dia marah besar. Di saat seperti ini, aku harus bertindak seperti tipikal cewek tomboy mandiri: bingung. Kenapa marah, ya? Dan sebenarnya, perasaanku bagaimana ke Steve dan Kevin? Ini dua pertanyaan yang juga sangat penting. Karena itu aku harus menggunakan cara paling logis untuk menemukannya.

Bungee jumping aaah.

Oke, ternyata aku suka Steve. Lho, Kevin ternyata suka aku. Ngomong dong. Sekarang dah telat. Dadah. Saatnya untuk Ndari sang cewek mandiri untuk datang ke tempat Steve dan menyatakan perasaannya.

Hmm. Yang ada cuman teman lakinya. Dan kebetulan ingin memperkosaku. Sial juga. Tapi jadi untung kok karena Steve datang. Hore!

Happy ending aaah.

Friday, December 1, 2006

James dan Persik Raksasa


Fiksi (terjemahan)
Penulis: Roald Dahl
Judul asli: James and the Giant Peach
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


“Namaku James Henry Trotter,” ujar sang tokoh utama. ”Dan seperti cerita Roald Dahl lainnya, aku harus menderita di awal cerita agar bisa bahagia di akhir.”

“Aku tokoh jahat,” potong Bibi Sponge.

”Aku juga,” timpal Bibi Spiker. ”Ayo kerja, kau binatang menjijikkan!” serunya ke James.

“Psst, bocah kecil,” desis seorang pria tua. “Menderita, ya? Tanpa alasan yang jelas, aku memiliki benda sihir yang dapat membuat peminumnya menjadi berkuasa hebat. Dan aku akan memberikannya padamu cuma-cuma.”

“Wow!” James menerima benda ajaib itu. “Semoga dengan begini aku nggak mengajari anak-anak kecil di seluruh dunia untuk sembarangan menenggak apa pun yang dikasih orang asing.” Ia langsung berlari pulang. “Terima kasih Pak Tua! Sekarang aku akan bergegas lari tanpa memedulikan sekitarku!”

James tersandung akar dan menjatuhkan ribuan benda ajaib itu. Semuanya hilang ditelan tanah. Besoknya, tumbuh satu persik raksasa yang berlubang besar.

“Wah, ada lubang!” James memasukinya. “Siapa pun yang membuat lubang di persik, pasti orang baik.”

“Halo, James,” sapa Kakek Belalang Hijau, Laba-laba Besar, Kepik Raksasa, Lipan, Cacing Tanah, dan Cacing Cahaya.

James melongo, “Apa kalian benar-benar tokoh baik?”

”Kita akan memotong tangkai persik, membiarkannya menggelinding, dan melindas kedua bibimu hingga penyet,” ujar mereka.

”Sudah kuduga! Kalian memang tokoh baik!” seru James girang.

Persik menggelinding, melindas tokoh jahat, dan terjatuh ke laut.

”Wah, kita dalam kesulitan!” keluh para serangga.

”Jangan lupa,” ujar James. ”Aku anak kecil tertindas yang nggak pernah sekolah. Berarti aku pintar!”

”Horeeee! Kita selamat!” seru para serangga. ”Hei, tapi aku kan bukan serangga,” protes Cacing Tanah.

Mereka mengalami berbagai petualangan hingga persik tertusuk di atas puncak Empire State Building.

”Celaka! Polisi mengepung kita!” teriak Laba-laba Besar.

”Mereka mengira kita monster!” lolong Kepik Raksasa.

”Jangan khawatir!” potong James. ”Aku akan mengenalkan kalian sambil bernyanyi. Dengan begitu, kalian akan dicintai!”

”Horeeee!” seru para serangga dan penduduk New York.