Showing posts with label fiksi ilmiah. Show all posts
Showing posts with label fiksi ilmiah. Show all posts

Tuesday, December 19, 2006

Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh


Fiksi
Judul: Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Penulis: Dewi Lestari
Penerbit: Truedee Books


"Walau aku adalah pengusaha sukses, tampan, dan terkenal, aku merasa hidupku kosong tanpa cinta," ujar Ferre.

"Walau aku adalah reporter majalah wanita sekaligus istri dari seorang lelaki terhormat, aku merasa hidupku hampa tanpa cinta," ujar Rana.

Ferre membelai dagu Rana. "Apakah akan ada pembaca yang menduga kalau kita akan saling mencintai tanpa penyelesaian?"

"Tidak akan!" ujar Dimas dan Ruben. "Karena kami akan membingungkan mereka dengan berbagai diskusi sains maupun religi yang disertai istilah-istilah asing dan luapan catatan kaki." Dimas mencium Ruben, "Ngomong-ngomong, kami gay. Cukup kan, sebagai faktor kejutan dalam budaya yang masih homofobik?"

"Dan jangan lupakan saya," sambung Diva. "Seorang wanita cantik, cerdas, dan kaya dari menjual diri maupun entah apa lagi." Diva mengusap rambutnya. "Aku akan hadir sebagai tokoh rekaan Dimas dan Ruben yang kemudian membalikkan papan catur dengan menjadi nyata!"

Pembaca Indonesia pun berdecak kagum, "KEREN BANGET!"

Pembaca di seluruh bagian dunia lain mengerutkan kening, "Sophie's World?"

Monday, December 18, 2006

Lost in Teleporter


Fiksi
Judul: Lost in Teleporter
Penulis: Fitria Barmawi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


"Hmm, aku tidak suka hidungku," ujar Dewey. "Dan aku sebentar lagi menggunakan teleporter."

Hidungnya tertukar.

"Wow! Seharusnya mereka jual alat ini di TVMedia!" seru Dewey. "Ubah hidung Anda tanpa operasi hanya dengan--tunggu dulu! Aku nggak suka hidungku yang baru. Kembalikan yang lama, dasar NatioTrans busuk!"

"Maaf, Pak," ujar pegawai NatioTrans, "kami mengalami kesulitan..."

"Aku akan menuntut kalian ke pengadilan!" ancam Dewey.

"Bapak sudah bertemu kepala Divisi Perangkat Lunak kami yang cantik dan seksi?" tanya sang pegawai.

"Hai," sambut Meylana. "Bagaimana kalau kamu bergabung dengan kami sebagai narasumber?"

"Kapan aku bisa mulai?" senyum Dewey.

Meylana melirik tangan Dewey, "Bukannya kau sudah bertunangan?"

"Oh sialan," maki Dewey, "cincin ini nggak ikut terteleportasi."

"Bagiku nggak masalah kok," Meylana menenangkan Dewey.

Dewey mengangkat bahu, "Oke."

Dan mereka pun kencan.

"Bang, SMS siapa ini, Bang?" tanya Nilam, menunjuk pesan-pesan Meylana dalam smartphone Dewey.

Dewey memicingkan mata, "Kamu bukannya orang Sunda?"

"Oh, iya," Nilam malu. "Tepatnya aku orang Sunda yang introvert dan suka mengembara dalam mimpi. Poin ini penting untuk ditekankan."

"Terserah kau, lah," Dewey mengibaskan tangannya.

"Hei, hidungmu tertukar denganku, ya?" geram Narada. "Sayang sekali, saya nggak mau tukeran."

"Anda sudah bertemu tunanganku yang cantik, introvert, dan suka mengembara dalam mimpi?" tanya Dewey.

Narada melongo. "Oke, tukeran yuk."

"Hidung?" sambut Dewey bersemangat.

"Bukan, tunangan."

"Tapi kamu kan nggak punya tunangan," tunjuk Dewey.

"Betul," angguk Narada. "Dan sekarang, kamu yang nggak punya." Ia memeluk Nilam. "Kami sering bertemu dalam pengembaraan mimpi kami."

"Sial," maki Dewey. "Untunglah aku punya Meylana."

"Ngomong-ngomong," tukas Meylana, "aku udah bersuami."

Dewey menghela napas. "Tak apalah, aku akan berjiwa besar dan menerima semuanya." Hebatnya, ia tidak berbohong.

Sunday, December 10, 2006

State of Fear


Fiksi
Judul: State of Fear
Penulis: Michael Crichton
Penerbit: Avon Books


“Hai,” sapa George Morton. “Saya biliuner kaya yang terlibat dalam berbagai proyek rahasia lingkungan hidup.”

“Dan saya pengacaranya,” ujar Peter Evans. “Walau di awal dialog saya sedikit, tapi saya adalah tokoh utamanya.”

George menghilang. Peter mencarinya. Dan dua kali hampir mati.

“Jangan khawatir,” kata John Kenner. “Di saat penting, aku pasti muncul untuk menyelamatkan situasi.”

“Kamu siapa?” tanya Peter.

“Aku agen rahasia pemerintah untuk melawan organisasi rahasia yang ingin mengakibatkan bencana alam berskala besar.”

Peter mengerutkan kening. “Saking rahasianya sehingga minim tenaga dan harus mengandalkan bantuan orang sipil seperti aku dan George?”

“Kira-kira begitu lah,” aku Kenner sambil menembak mati beberapa musuh.

“Jangan lupakan aku,” Sarah muncul. “Sekretaris cantik serbabisa berkaki jenjang.” Ia menembak mati seorang musuh. “Dan melengkapi elemen cerita agar bisa dijadikan skenario film Hollywood.” Ia menoleh ke arah Peter. “Oh, ya, ngomong-ngomong, George mati.”

“Oke,” kata Peter sambil turun dari pesawat. “Ada yang bisa memberiku alasan logis kenapa aku tetap ikut bersama kalian ke pulau terpencil ini, yang penuh dengan kanibal, pemberontak bersenjata, dan nyamuk malaria?”

Sarah mengangkat alis, “Tadi aku udah bilang belum mengenai diriku berkaki jenjang?”

“Jangan khawatir tentang nyamuk,” kibas Kenner. “Mereka bahaya jangka panjang. Pembaca hanya peduli bahaya jangka pendek.”

“Seperti itu?” tunjuk Peter kepada barisan mesin pembangkit tsunami.

“Ya,” angguk John. “Kau sedang cedera dan nggak pernah mendapatkan pelatihan militer, kan?”

“Belum pernah sama sekali,” geleng Peter.

“Oke, kau ambil alih satu generator.” John segera membunuh penjaga generator lainnya.

“Terlambat!” teriak Peter. “Mereka sudah sempat menyalakannya!”

“Celaka!” teriak George Morton. “Telepon CNN! Tunda siaran cuaca! Dan hubungi pialang sahamku juga. Jual semua saham hotel di pinggiran pantai!”

“George!” Peter berseru. “Kau masih hidup! Mari berlari ke dataran tinggi sebelum tsunami datang!”

“Oke!” sambut George. “Jangan lupa untuk membiarkan air di belakang kita setidaknya lima meter. Itu efeknya lebih tegang.”

Mereka selamat dan menyaksikan air laut yang mengganas. “Melihat semua ini membuatku menyadari sesuatu,” kata George.

“Bahwa banyak spekulasi tentang lingkungan hidup yang disesatkan sebagai informasi?” tanya Sarah.

“Bahwa kedua sisi—baik perusak maupun pelindung lingkungan—memiliki agenda?” tanya Peter.

"Bukan," geleng Morton. “Bahkan salah satu bencana alam terbesar di dunia pun bisa jadi ajang promosi novel.”